Minggu, 01 September 2019

Plants Nowadays: Semi Hidroponik, alternatif berkebun tanpa tanah yang lebih praktis dan murah


Kepikiran untuk mulai berkebun tapi belum siap untuk belajar soal komposisi tanah dan menghabiskan banyak waktu untuk 'memberi makan' tanamanmu? Ingin mencoba metode hidroponik tapi sangat riweuh dan butuh biaya yang cukup mengguncang dadamu? Ada loh solusi yang mungkin harus kamu coba–semi hidroponik.

Mengenal semi hidroponik

Pernah gak mendengar soal metode menanam dengan hidroponik? Sering sekali diadakan workshop menanam dengan hidroponik belakangan ini. Tapi melihat persiapan tools-nya, saya jadi ngeri sendiri dan enggan untuk mencoba. Buat saya, ribet dikit tidak apa asal gak harus potong-potong pipa dan membangun materi dan tetek bengeknya untuk hidroponik. Belum lagi, jika saya memutuskan untuk melakukan instalasi dengan bantuan jasa, bisa kempes kantong saya seketika. Namun, setelah saya melakukan riset lebih lanjut, ternyata ada loh metode lain yang lebih ringkas, mudah, dan murah–semi hidroponik solusinya.

Semi hidroponik adalah salah satu metode menanam dengan menggunakan media yang non-organik yang mudah didapatkan tools-nya dan biaya persiapannya gak akan membuat ketenangan batinmu terguncang. Metode ini bisa diterapkan ke hampir semua tanaman dengan proses yang benar.

Kalo mau mulai, apa aja sih yang disiapkan?

Tidak perlu ribet dan mahal. Kumpulkan saja pot-pot bekas tanaman kamu yang ada di rumah, siapkan medianya, nutrisi, juga airnya.

Pot

Kamu bisa menggunakan pot-pot bekas, atau membeli pot baru dengan harga yang cukup terjangkau melalui toko bunga offline atau bisa juga di online marketplace. Pastikan pot tersebut tidak memiliki lubang di dasarnya, setelah itu tambahkan lubang disampingnya yang tingginya sekitar 2,5cm dari dasar pot, dan berdiameter 0,6cm. Jika kamu menggunakan pot bekas, pastikan pot sudah dicuci bersih, dan pastikan juga sudah bebas hama ya!
contoh pot yang bisa kamu gunakan. sumber gambar: bukalapak.com

Media Tanam

Gak seperti umumnya berkebun yang menggunakan media tanam kombinasi berbagai jenis tanah, media tanam semi-hidroponik hanya menggunakan satu media tanam yang bisa kamu dapatkan di online marketplace. Nama media tanamnya adalah hidroton.
media tanam hidroton. sumber gambar: tokopertanianhidroponik.wordpress.com
Hidroton sendiri adalah salah satu media tanam yang memiliki komposisi tanah lempung lalu dibakar. Diameternya kira-kira 1-2,5 cm dan memiliki pori-pori yang berguna untuk menyerap air. Hidroton ini memiliki keunggulan yaitu dapat digunakan kembali, tidak seperti tanah yang harus dikompos dulu. Cukup pastikan hidroton disterilkan atau dicuci sebelum digunakan kembali.

Nutrisi dan pH air

Untuk nutrisi, sebenarnya kita bisa menggunakan komposisi untuk menanam dengan cara hidroponik, namun saran saya, kenali dulu apa yang dibutuhkan tanamanmu supaya kamu tahu nutrisi apa yang kira-kira cocok untuk si kesayangan. Kenapa demikian? Karena hidroton bukan tanah, sehingga tidak menyimpan unsur-unsur hara seperti yang tanah lakukan untuk bumi kita tercinta ini. Maka dari itu, penting untuk memberi nutrisi yang pas untuk tanaman kamu. Seingat saya, salah satu nutrisi hidroponik yang banyak dipakai adalah AB Mix. Akan saya sertakan gambarnya dibawah.
sumber gambar: blibli.com
Untuk pH air, pastikan ada di pH netral. Tapi sebetulnya dianjurkan yang memiliki pH antara 5,5 - 6,5. Pastikan untuk cek pH air kamu sebelum memulai metode ini, ya! Supaya gak zonk! Huhuhu.

Step by step, cara memulai.

Pertama-tama, silakan dipilih tanaman apa yang ingin kamu tanam dengan metode semi hidroponik, siapkan peralatannya, pastikan nutrisi yang dibutuhkan, pastikan pH air sudah tepat, dan pastikan kamu sudah banyak iqro mengenai jenis tanamanmu (ini penting banget!).

Setelah semua sudah siap, bersihkan akar dari media tanam lamanya. Jika tanaman kamu adalah hasil dari propagasi dengan media air, maka congratulations! Kamu tidak perlu meribetkan diri dengan membersihkan tanamanmu dari media tanam lamanya. Jika media tanam lamanya adalah tanah, maka bersihkan media tanam lamanya dari akar semampumu. Pastikan untuk tidak merusak akar sehatnya, ya! (Akar sehat berwarna putih.)

Setelah tahap membersihkan tanaman sudah usai, waktunya memasukkan tanaman ke rumah barunya dengan media barunya. Pertama, masukkan media tanam setinggi lubang di samping pot. Masukkan tanaman dengan posisi vertikal (jangan horizontal. nanti tanamanmu terkubur di media tanamnya.) lalu kamu isi lagi dengan media tanam tersebut. Oh iya, pastikan akar tanamanmu berada DI ATAS batas lubang tersebut ya.

Tahap terakhir adalah menyiram tanaman tersebut dengan air yang sudah diatur nutrisi dan pH-nya hingga air tumpah dari samping pot. Selesai deh!

Pro & Cons

Pasti ada pro dan kontra dalam melakukan sebuah metode, dong. Mari saya jelaskan lebih lanjut pro dan kontranya.

Metode ini sangat cocok bagi kalian yang suka jalan-jalan dan tidak aware dengan kondisi air di dalam media tanam kalian karena, air yang berlebihan akan dibuang, dan kalian hanya perlu menyiram ketika air dalam rumah baru tanaman kalian sudah habis. Kalian tidak perlu cek tiap waktu kondisi tanah dan kondisi tanaman kalian untuk menyiram tanaman.

Kontranya adalah, perlu waktu bagi tanaman untuk beralih dari media tanam tanah, ke media tanam semi-hidroponik (kecuali tanaman kalian adalah tanaman hasil propagasi menggunakan air). Sama seperti ketika kulit kita di scrub, ada proses exfoliating dari akar tanaman, tapi pasti akan tumbuh akar baru yang sehat yang sudah beradaptasi dengan habitat barunya.

Jumat, 23 Agustus 2019

Back to Basic: Berkebun atau tidak?

sumber gambar: pexels.com

Banyak banget yang bertanya pada saya (termasuk keluarga dan relasi saya) mengenai hobby saya berkebun–kenapa akhirnya memutuskan berkebun? Kapan mulai berkebun? Dan pertanyaan lain seputar space/luas lahan yang dibutuhkan dan costing berkebun. Sebetulnya, tidak seribet itu juga untuk berkebun, sampai segala sesuatu dianggarkan dan dipersiapkan terlalu detail.

Dimulai dari ketidaktahuan

Saya memulai berkebun mungkin sekitar dua setengah tahun yang lalu. Ketika itu, masih hype banget nih tanaman-tanaman sejenis sukulen dan kaktus, pun karena hype itulah (mungkin) saya mulai berkebun. Pada waktu itu, saya bekerja di sebuah thrift store di Surabaya dan kebetulan kami (para pekerja di thrift store tersebut) diizinkan membuat proyek-proyek kecil untuk dipasarkan di toko. Saya memutuskan membuat starter kit menanam bekerja sama dengan partner saya di toko pada waktu itu–saya yang mencari jenis tanamannya, partner saya yang membuat pot (dari semen). Setelah berpikir panjang dan (tidak) penuh pertimbangan, saya memutuskan untuk memilih sukulen untuk dijadikan tanaman starter kit berkebun tersebut karena (setelah saya melakukan riset) perawatannya tidak rumit–tidak butuh pupuk khusus,  jadwal menyiram yang konsisten, dsb. Dari starter kit tersebut, mulailah saya mengoleksi berbagai macam jenis sukulen dan kaktus, dan tidak hanya sekali atau dua kali mereka meninggal dunia karena salah perawatan. Semua karena ketidaktahuan saya dalam merawat mereka.

Ketidaktahuan saya inilah yang membuat saya semakin tertarik dengan dunia tanam-menanam dan berkebun, terlebih lagi ayah saya cukup banyak mengoleksi tanaman di halaman depan rumah. Dimulai dari rasa penasaran saya dengan sukulen, saya memulai mengoleksi dan mengembangbiakkan sukulen pada waktu itu. Banyak sekali pasang surut yang saya dapatkan, seringnya sih surut, tapi tidak membuat saya berhenti belajar. Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan mencoba membeli tanaman foliage karena sudah hampir putus asa melihat sukulen saya seperti memekik ingin mati saja karena saya tidak memiliki pengetahuan merawat mereka. Ajaibnya, tanaman foliage pertama saya tumbuh subur (bahkan sampai hari ini sehat walafiat berada di halaman depan rumah).

Space

Di awal, tanaman saya, si sukulen-sukulen lucu ini saya taruh di depan rumah. Memang halaman depan rumah saya cukup lapang sehingga mampu menampung banyak sekali sukulen. Setelah bermain lama dengan sukulen, baru saya mulai bermain dengan foliage dan masih saya tempatkan di halaman rumah. Hingga halaman rumah saya sudah tidak ada space lagi, maka beberapa saya pindahkan ke dalam ruangan yakni beberapa di ruang tamu, dan beberapa di kamar.

Karena saya masih tinggal bersama orang tua, di awal banyak sekali percekcokan karena tanaman yang berada di dalam ruangan. Tapi karena keras kepala saya, mereka akhirnya tidak bisa berkilah dan mengizinkan saya memelihara tanaman saya di kamar (walaupun beberapa kali mereka mencoba memindahkan tanaman-tanaman saya ke luar ruangan, dan akhirnya kembali saya taruh di kamar).

Tentu saja, jumlah tanah akan terus menyusut seiring dengan perkembangbiakan manusia di bumi ini, maka kita harus punya fleksibilitas untuk melakukan kegemaran kita. Salah satunya berkebun. Di awal, orang-orang banyak berkebun di luar ruangan. Tapi dengan berkurangnya space, maka kita harus mengakali dengan melakukan kegiatan tersebut di dalam ruangan. Memang sedikit tricky, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Kita hanya butuh sedikit riset untuk mengetahui apa-apa saja yang tanaman kita butuhkan untuk mereka bisa hidup di dalam ruangan.

Keuntungan dan kekurangan

Berkebun di dalam ruangan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal tersebut yang harus dipertimbangkan dengan masak.

Sejauh pengalaman saya, kelebihan yang saya rasakan adalah dengan adanya tanaman di dalam kamar, saya jadi lebih peduli akan kebersihan dan kondisi kamar saya. Saya jadi lebih rutin membersihkan kamar karena cara menanam yang saya pilih menggunakan media tanam tanah, bukan hidroponik ataupun semi hidroponik, sehingga saya harus rutin membersihkan kamar saya dari debu atau tanah-tanah.

Kedua, tanaman meningkatkan kualitas udara di kamar saya. Tidur menjadi lebih nyenyak karena tingkat oksigen yang naik, juga karena kondisi kamar yang lebih sejuk. Masih beredar mitos bahwa tanaman bisa membuat kita kekurangan oksigan, padahal sebenarnya sih, tidak. Mungkin di lain pembahasan akan saya bahas kenapa tidak mungkin kita kekurangan oksigen dengan sebegitu banyak tanaman di dalam ruangan.

Ketiga, saya adalah tipikal orang yang mudah sekali terdistraksi, namun dengan adanya tanaman, saya justru dapat lebih fokus dalam berkegiatan di dalam kamar. Produktifitas jadi lebih meningkat ketika saya mulai berkebun di dalam kamar.

Kekurangannya, untuk saya pribadi, lebih pada maintenance kamar yang frekuensinya meningkat, insect prevention, dan tingkat kelembaban yang harus diatur dan diawasi. Biasanya, saya melakukan maintenance sekitar sebulan sekali, sekarang jadi dua minggu sekali. Maintenance yang dimaksud seperti mengganti sprei, membersihkan debu-debu, declutter space. Selebihnya sih, oke. Untuk kelembaban kamar sendiri, saya memutuskan membeli humidifier untuk mengatur kelembaban sudut kamar yang saya isi dengan tanaman.

Indoor atau Outdoor

Sebelum menentukan tanaman apa yang ingin kamu tanam, ada baiknya kamu pertimbangkan dulu, nih, kira-kira, kamu ingin berkebun di dalam ruangan atau di luar ruangan sehingga kamu tahu kira-kira tanaman apa yang harus kamu miliki. Atau sebaliknya juga gak apa-apa. Permasalahannya adalah, jika kita tidak mengenal space yang ingin kita gunakan untuk berkebun, tanaman yang nantinya akan menghidupi space tersebut juga akan kesulitan beradaptasi.

Saya mengumpamakan tanaman saya sebagai seorang bayi. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk berjalan, hanya ‘berubah posisi’. Itulah kenapa kita harus betul-betul mengenal space terlebih dahulu sebelum membeli tanaman.

DO RESEARCH BEFORE YOU BUY

Sebelum membeli tanaman, harus riset terlebih dahulu cara merawat tanaman yang ingin dibeli. Karena, setiap tanaman memiliki treatment mereka masing-masing dan tidak bisa disamakan. Aku merekomendasikan website homesteadbrooklyn.com karena aku sendiri belajar banyak dari website tersebut.

Jadi, gimana nih? Berkebun atau tidak, ya? Sebetulnya aku merekomendasikan kamu untuk mencoba terlebih dahulu. Menurut quotes bijak sih, tak kenal maka tak sayang, begitu juga dengan berkebun. Selamat mencoba, fellazzzzzz........

Kamis, 22 Agustus 2019

Introduction: Rebranding, hiatus, dan mengapa.

sumber gambar: pexels.com

Sudah sekian lama saya hiatus dari blog ini karena kesulitan mengatur begitu banyak perkara kehidupan yang fana ini (tshah!) Kali ini saya kembali dengan berbagai ide postingan blog yang lebih fresh dan (semoga) membantu saudara-saudara pembaca blog ini mulai menanam dan berkebun.

Beberapa kali saya sempat berpikiran untuk memiliki blog yang bisa saya isi segalanya, mulai dari pikiran-pikiran sekelibat soal hidup, stabilitas mental saya, stabilitas kehidupan saya di dunia ini yang mungkin gak seberapa penting juga untuk saya bahas. Namun setelah saya pikir-pikir, blog ini pasti akan jadi sangat random dan berantakan jika saya tetap lanjutkan demikian. Maka setelah sekian lama saya pikirkan, saya memutuskan untuk me-rebranding blog saya sendiri dengan mengubah secara keseluruhan konten saya kedepannya.

Lalu, apa saja sih yang akan saya bahas di tulisan-tulisan saya selanjutnya. Tentu akan ada beberapa sub tema yang sudah saya tentukan, serta tema besar yang menjadi fokus dalam blog saya.

Teh Panas dan Hehijauan

Blog ini (pada awalnya) berisi beberapa resep sederhana dan mengenai gardening tipis-tipis. Namun, karena kurang spesifik, saya mulai kehilangan arah blog saya harusnya dibawa kemana. Maka saya putuskan untuk memberikan hanya beberapa topik/subtema yang akan secara spesifik saya bagikan kepada pembaca blog saya. Apa aja sih topik yang akan saya bahas?

Back to Basic: Pengenalan sederhana memulai berkebun

Nyatanya, berkebun masih menjadi salah satu hobby yang menurut banyak anak-anak muda sulit sehingga takut untuk mencoba. Subtema 'Back to Basic' akan secara spesifik memberikan sebuah pengenalan untuk kamu semua memulai berkebun–mulai dari apa saja yang dibutuhkan, tanaman apa saja yang baik untuk memulai keinginan berkebun, costing, dan segala macam hal yang berhubungan dengan dasar berkebun seperti komposisi media tanam, cara menyiram tanaman, dan sebagainya.

Plantopedia: Koleksi tanaman yang dimiliki, tips perawatan, dll

Konten plantopedia dibuat untuk memberi wawasan kamu yang mungkin kehilangan jalan pulang keinginan untuk berkebun karena nggak tahu apapun soal tanaman yang kamu punya. Subtema ini secara khusus membahas karakter tanaman sehingga kamu memiliki gambaran pasti soal apa saja pro dan kontra pemeliharaan tanaman, kondisi yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh subur, dan segala hal yang semacam itu.

Give Your Plants Another Chance: Cerita mengenai gagal dan suksesnya saya berkebun di dalam kamar.

Setiap tanaman berhak mendapat kesempatan untuk hidup–itu menurut saya. Awal mula saya menanam, tidak hanya sekali saya gagal menjaga tanaman saya hidup bahagia, beberapa mati, bahkan (terutama succulents) dan itupun karena kurangnya kepekaan saya terhadap kondisi tanaman dan kondisi ekosistem tanaman saya. Subtema ini akan lebih spesifik ke cerita-cerita kegagalan saya menanam beberapa tanaman, berapa kali saya mencoba, dan mengapa bisa gagal. Melalui deskripsi yang nantinya saya bagikan, tentu akan dapat membantu kawan-kawan pembaca untuk lebih dinamis dalam merawat tanaman yang dibeli/akan dibeli.

Plants and Places: Tempat yang bisa kamu kunjungi untuk membeli tanaman, peralatan berkebun, atau sekedar melihat-lihat.

Subtema ini mungkin akan jarang dibahas, namun percayalah konten ini sangat berguna, terlebih lagi jika kamu adalah hejo-hejo hunter seperti saya yang otaknya hilang separo kalo sudah berada di toko yang menjual berbagai macam tanaman.

Plants Nowadays: Secara spesifik membahas trend berkebun.

Penting banget untuk para pembaca yang ingin mendalami seni menanam untuk mengetahui trend berkebun dari tokoh-tokoh yang sudah menjadi pakar. Kenapa sih kok penting? Karena dari mereka, kita bisa tau treatment tanaman kita dan bagaimana seni menanam ini makin hari makin global dan berkembang.

Menurut saya, dengan rebranding, blog saya nantinya akan lebih bermanfaat dan memacu teman-teman pembaca untuk memulai berkebun di rumah (seperti yang saya lakukan–berkebun di kamar. Hahaha.)

Karena itu, tunggu kami kembali hadir mengisi hari-harimu menjadi lebih hijau dan subur.
Cheers!

Jumat, 02 November 2018

Ubud dan Ceritanya–Sebuah Alasan.

Selamat malam. Kali ini izinkan saya terlebih dahulu memohon maaf karena sudah lama tidak berkabar dan tidak menulis di blog lantaran banyak sekali yang lalu-lalang dalam benak. Kali ini, saya ingin berbagi bukan mengenai anak-anak hejo atau bebikinan, namun berbagi mengenai saya sendiri.

Seminggu yang lalu saya berkesempatan menghabiskan waktu saya di Ubud, menjadi sukarelawan sebuah event bernama Ubud Writers and Readers Festival selama lima hari. Banyak hal yang diberi dan didapat. Banyak ilmu yang didapat, cerita yang sudah dibagi, juga orang-orang hebat yang saya temui (tanpa terkecuali).

Pasar Tradisional Ubud

Blue is The Universe: Cultural Workshop

Blue is The Universe: Cultural Workshop

Ubud Writers and Readers Festival 2018: Jagadhita

Book launch: Buddha is a Punk Skater

Main Program: It Takes Two
Beberapa foto yang berhasil saya abadikan momennya. Tidak sebagus milik official photographer memang, setidaknya saya sudah semaksimal mungkin menggunakan ilmu saya mengambil gambar. Belum lagi jam terbang saya yang tidak terlalu tinggi. Mungkin memang benar, saat-saat ini saat yang tepat untuk menempa potensi yang saya miliki.

Bercerita pengalaman selama di sana memang seru, namun bukan itu yang ingin saya tuliskan kali ini. Saya ingin menulis 'mengapa'.

[Oke, saya kesulitan menuliskan apa yang saya rasakan.]
Saya rasa, saya ingin mulai dengan dorongan dari dalam hati untuk lekas pindah. Apakah kalian pernah merasakan hal yang sama? Kaki seperti berat untuk melangkah dan beraktivitas, tidak ada semangat untuk melakukan hal-hal yang mestinya membuat kita bahagia, kesulitan tidur, otak kita menolak untuk berhenti berpikir. Ya kira-kira begitu yang saya rasakan.

Sebentar, untuk post kali ini, izinkan saya untuk menggunakan bahasa Indonesia versi saya yang bancuh.

Sudah sekian tahun, dadaku seperti tertimpa–sulit buatku bernapas dan tidur nyenyak tiap malam. Mataku baru bisa benar-benar terpejam dalam gelam ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi. Aku tidak suka disini, aku menolak untuk bercerita mengapa. Nanti mereka berkilah, katanya aku suka menyalahkan keadaan. Padahal juga bukan itu. Aku berulang-ulang kali ingin berhenti, sudah tidak punya semangat untuk tetap tinggal disini. Masih saja mereka sok mengerti hidupku, lantaran aku masih anak kemarin sore katanya. Siapa tidak sakit hati dibegitukan? Maaf terkesan personal ya.

Berbulan-bulan aku terkungkung di kota Surabaya dengan orang-orang yang hampir seluruhnya tidak aku sukai. Sedangkan aku jatuh cinta pada Bali dengan manusia-manusianya yang membumi, mereka yang mau memahami mengenai aku tanpa titik atau koma, tanpa belu-belai mencari isbat mengenai wanita harus bagaimana, dan anak harus bagaimana. Aku haruslah menjadi aku, dan tidak boleh dan tidak dapat dipaksa untuk jadi yang lain.

Kemudian akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti program ini. Entah apakah hanya aku yang memiliki alasan se-'personal' ini untuk mengikuti kegiatan ini atau tidak. Namun, kira-kira itulah yang membuatku bersetuju mengikuti acara ini.

Jujur saja, sering sekali aku menghabiskan liburan di Bali karena memang buatku Bali adalah rumah. Tidak ada yang lebih nyaman dibandingkan Bali. Aku merasa bebas mengekspresikan diri, bebas menjadi diriku sendiri, dan tetap didukung, namun dikritik secara bersamaan disini. Banyak hal yang menahan hatiku untuk menetap disini. Tapi aku belum pernah jatuh cinta pada Ubud, sampai akhirnya aku menghabiskan lima hariku di Ubud.

Iya, aku jatuh cinta pada Ubud–dengan segala kemacetan dan harga kebutuhan pokok yang melangit. Aku jatuh cinta hingga aku memutuskan untuk segera menetap disana seusai aku lulus.

Selama lima hari aku tinggal di Ubud, aku menyembuhkan lukaku sendiri dengan caraku. Aku mulai menulis lagi, aku mulai mendengarkan musikku, aku bertemu dengan banyak sekali orang baru, dan aku suka. Aku merasa diterima tanpa mereka tahu bagaimana aku yang sebenarnya.

Selama lima hari aku tinggal di Ubud, aku belajar mencintai diriku sendiri. Aku mulai berolahraga, mengurangi konsumsi makanan instan dan junk food, belajar mencukupi diri dengan apa yang ada.

Maka kali ini aku berterimakasih, sekali lagi, pada semesta, yang sudah dengan bijak mengajakku bergabung dan menghabiskan waktu di tempat yang baru. Sebelumnya aku hanya pergi ke tempat-tempat yang aku tahu saja. Tapi kali ini berbeda. Dan aku bahagia.

Kamis, 27 September 2018

Resep Hehijauan: Homemade Almond Milk

Beberapa bulan ini saya sedang suka dengan akun youtube Raw Alignment dan mencoba membuat membuat jus, smoothie, over-night oat, dan berbagai macam resep buah dan sayur sendiri. Saya juga mulai mencoba mengkonsumsi makanan-makanan rendah gula dan mencari alternatif makanan pokok yaitu nasi. Dua hari yang lalu, saya memutuskan mencoba membuat susu almond.

Homemade almond milk
Kali ini, saya ingin berbagi resep susu almond buatan saya. Kebetulan dua hari yang lalu saya nganggur, akhirnya saya memutuskan membuat susu almond sendiri untuk konsumsi pribadi tentunya. Selain mudah, saya juga menggunakan bahan-bahan yang tidak mahal, beberapa malah saya ambil dari kebun di halaman rumah.

Kacang almond memiliki berbagai macam manfaat bagi tubuh kita, selain disebut sebagai superfood. Beberapa manfaat diantaranya adalah menurunkan kadar kolesterol jahat, pengontrol diabetes, menyehatkan jantung, meningkatkan kinerja otak, melancarkan pencernaan, dan baik untuk ibu hamil. Banyak banget kan? Kalau begitu, langsung aja deh kita simak cara membuatnya.

Bahan -bahan yang dibutuhkan untuk membuat susu almond adalah :


250 gram kacang almond (saya menggunakan raw almond)
1 liter air mineral
Buah kurma secukupnya sebagai pemanis (boleh diganti madu, atau gula biasa.)
Garam secukupnya

Cara membuatnya mudah saja kok :
Rendam kacang almond dengan air matang kurang lebih 8 sampai 24 jam sampai kacang almond terlihat plump, kemudian tiriskan.

Siapkan blender, masukkan kacang almond, air mineral, buah kurma (saya pakai sekitar 8 buah kurma untuk 1 liter susu almond), dan beri setengah sendok teh garam, lalu blender sampai berbuih. Nah, jika ingin membuat susu almond dengan jumlah yang lebih sedikit, cukup diingat rasionya yaitu 1:4 dimana setiap 1 gram kacang almond butuh 4 mili liter air. Jadi kalau mau buat 600 ml susu almond, membutuhkan 150 gram kacang almond, dan air sebanyak 600 ml.

Setelah itu, saring menggunakan penyaring (saya menggunakan pakaian untuk menyaring agar susu jadi lebih lembut), saring hingga tetes terakhir.




Langkah tambahan saya adalah memanaskan susu menggunakan daun pandang selama kurang lebih 5 menit saja. Pandan saya masukkan terlebih dahulu ke dalam panci sampai agak layu, kemudian saya masukkan susu almond. Saya aduk terus sampai mengeluarkan bau pandan (kurang lebih 5 menit saja), kemudian saya tiriskan dan saya diamkan sampai dingin.

proses penyaringan
Agar lebih awet, saya masukkan susu almond ke dalam container tertutup seperti toples kaca atau mason jar.

Untuk pemanis susu almond, sebetulnya tidak harus menggunakan buah kurma. Bisa menggunakan madu, mapple syrup, gula biasa, bahkan gula aren bisa digunakan kalau memang okay dengan rasanya. Saya pribadi menggunakan buah kurma karena buah kurma memiliki serat alami di dalamnya dan meningkatkan energi.

ampas penyaringan

Lalu bagaimana dengan ampas penyaringannya? Untuk ampasnya, saya sangrai dan saya simpan dalam container stainless steel untuk kemudian saya gunakan menjadi topping makanan-makanan di rumah. Jadi, tidak perlu dibuang. Selain untuk jadi topping, bisa juga untuk bahan smoothie.

Susu almond ini rasanya ringan, nutty, creamy, dan tidak terlalu manis. Persis dengan apa yang saya ekspektasikan. Saya suka sekali rasanya dibandingkan susu almond yang biasanya saya beli. Apalagi ada aroma pandan, jadi lebih cocok untuk lidah saya.

Proses pembuatannya mudah, bukan? Susu almond ini bisa jadi alternatif susu bagi anak-anak yang kurang suka susu sapi. Selain itu, susu almond ini bisa jadi project orang tua dan anak di akhir pekan, juga untuk project lainnya.

Selamat mencoba!

Selasa, 25 September 2018

Tanaman untuk Pemula: 3 Houseplants Untuk Memulai Urban-gardening.

A room full of love.
*note : saya memohon maaf jika bahasanya tercampur-campur dengan bahasa Inggris, dikarenakan masih ada beberapa kosakata yang saya belum temukan dalam bahasa Indonesia.*


Siapa bilang memulai urban-gardening itu sulit? Memulai aktivitas baru memang akan selalu sulit, apalagi jika aktivitas-aktivitas baru tersebut tidak pernah tersentuh sama sekali. Tapi, aktivitas-aktivitas baru tersebut tidak boleh jadi momok, apalagi jika aktivitas baru tersebut membantu diri kita untuk jadi lebih positif dari sebelumnya.

Urban-gardening adalah salah satu aktivitas yang patut untuk dicoba, lho, teman-teman. Bagi teman-teman yang hidup di kota tentu akan menyadari pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Hal ini menjadi dilema tersendiri karena dengan pertumbuhan penduduk yang pesat, tentu dibutuhkan space yang lebih besar untuk manusia dapat hidup dan beraktivitas. Karena space yang semakin minim tersebut, munculah beberapa alternatif gaya hidup. Salah satunya adalah urban-gardening. Konsep gaya hidup urban-gardening sendiri sudah berkembang sangat pesat, dan memunculkan banyak gerakan-gerakan pola hidup yang baru.

Urban-gardening ala Cila.
Memulai urban-gardening sebenarnya mudah saja, kok, teman-teman. Kalian cukup membeli tanaman yang mudah untuk di rawat. Perlahan-lahan pasti rasa cinta dan kepekaan kalian terhadap urban-garden kalian akan tumbuh, seperti pepatah orang-orang Jawa 'tresna jalaran saka kulina' bahwa rasa cinta akan tumbuh karena terbiasa.

Kali ini, saya ingin berbagi info mengenai tanaman yang mudah sekali perawatannya dan cocok bagi pemula. Jangan lupa dicatat untuk segera diadopsi, ya!

Sansevieria / lidah mertua

sumber: modularmerchant.com
Salah satu tanaman yang tidak riweuh dan bisa hidup dengan aman dan tentram di dalam rumah adalah si lidah mertua ini. Bentuknya seperti pedang dengan daun yang memiliki banyak motif dan warna. Sangat cantik! Selain lidah mertua jumbo, ada juga versi mininya lho! Selain itu, harga tanaman ini tidak terlalu mahal karena sudah menjadi common plant di Indonesia.

Perawatannya sangat mudah, kok! Cukup diamkan aja, disiram hanya waktu media tanam sudah kering 100%. Lidah mertua saya biasanya saya siram sekitar satu setengah bulan sekali dan tetap tumbuh dengan bahagia. Bahkan, si lidah mertua di rumah sudah memunculkan tunas baru. Untuk cahaya matahari, si lidah mertua ini bisa thrive dalam segala kondisi cahaya mulai dari low-light sampai full-light dibawah sinar matahari. Selain itu, tanaman ini tidak terlalu membutuhkan pupuk. Bisa disimpulkan dong seberapa mudah perawatannya dari penjelasan di atas?

Apa sih keuntungan si lidah mertua ini? Tanaman ini sudah dinobatkan oleh NASA Clean Air Study sebagai tanaman yang mampu membersihkan udara kotor karena kemampuannya menyerap racun seperti formaldehyde (biasanya dipakai untuk cat, dan bahan peledak), xylene (printing, rubber, and leather industry), dan toluene (thinner, lem). Tidak hanya itu, tanaman ini menyerap karbon dioksida di malam hari, dan mengeluarkan oksigen pada pagi, siang, dan sore hari sehingga sangat cocok untuk ditaruh di kamar. tapi perlu diingat, ya, tanaman ini beracun jika termakan.

Pothos / sirih-sirihan

sumber: interiorofficeplant.com
Salah satu tanaman yang paling sederhana, cantik, easy grower, dan bushy di dunia ini adalah pothos atau bisa juga disebut tanaman sirih-sirihan (tidak bisa di makan, ya!)

Tanaman ini adalah salah satu house-plant pertama yang saya dapat dari beberapa cutting dan aku propagasi sendiri, dan sampai hari ini masih bahagia dan makin rimbun. Tidak hanya itu, harga pothos di nursery lokal bisa dikatakan cukup murah, kisaran Rp. 10.000,- sampai Rp. 35.000,- tergantung jenis dan kerimbunannya. Beragamnya jenis pothos ini membuat banyak orang jatuh cinta karena tiap-tiap jenis memiliki keunikan masing-masing.

Sama seperti si lidah mertua, pothos juga mampu membersihkan udara di dalam ruangan sehingga sangat baik untuk dijadikan tanaman indoor. Tidak hanya itu, pothos mampu bertahan dalam kondisi low-light walaupun tumbuhnya tidak secepat di kondisi medium light, yang penting si pothos gak rewel tumbuh. Jika bisa, hindarkan si pothos dari matahari langsung, ya, apalagi jika pothos yang sudah variegata. Untuk penyiraman, pastikan media tanam kering sekitar 70%, baru di siram. Jangan dibiarkan kekeringan, ya. Pothos di kamar saya biasanya disiram sekitar dua minggu sekali, tergantung kondisi kelembabannya. Patokan untuk tau kapan harus siram adalah menyelupkan jari ke dalam tanah sedalam kurang lebih 2 cm, kalau tanah terasa lembab saja, dan tidak membuat jari basah ketika diangkat, maka itu waktu yang tepat untuk menyiram. Mudah kan?

Zamioculcas Zamiifolia / ZZ Plant / Tanaman Dolar

sumber: nfdonline.com
Pernah lihat tanaman yang satu ini? Si cantik ZZ Plant adalah salah satu tanaman yang mudah perawatannya, lho! Tidak rewel, dan memiliki tekstur daun serta bentuk yang unik. Kekurangannya sih, ya, tumbuhnya memang agak lama. Tapi kalau sudah rimbun, pasti terkagum-kagum. Tanaman ini saya rekomendasikan untuk teman-teman yang sangat sibuk di luar rumah sehingga kurang ada quality time untuk si cantik ini.

ZZ Plant terkenal bandel dan menolak dying. Saya pernah over water tanaman ini, dia cuma agak layu aja. Saya pun pernah biarin si cantik ini selama dua bulanan, sama sekali tidak saya sentuh dan tidak setetes airpun saya beri, dan dia masih tetap thriving sampai hari ini. Di awal-awal berkebun, saya sering sekali miss-treated dia dan dia masih sayang sama saya sampai hari ini. Terharu sekali.

Untuk perawatannya sendiri, tidak ribet kok. Cukup siram dia waktu tanah dalam kondisi 90% kering, mungkin sekitar 2 atau 3 minggu sekali untuk ZZ Plant yang sehat dan bahagia. Kemudian untuk kondisi cahaya, ZZ Plant bisa masuk ke kondisi pencahayaan apapun, mulai dari low-light sampai high-light tapi sebisa mungkin untuk menghindarkan si cantik dari matahari langsung waktu tengah hari, ya.

Scindapsus pictus / satin pothos / sirih velvet
Nah, di atas adalah tiga tanaman rekomendasi dari saya untuk teman-teman yang mau memulai koleksi house-plant. Tanaman-tanaman diatas saya pilih karena saya pribadi sudah mencoba merawat ketiganya, dan memang ketiga tanaman ini adalah tanaman yang mudah untuk dirawat oleh pemula. Semoga thread ini bisa membantu teman-teman mengurangi keresahan memulai urban-gardening dan memantik keinginan untuk segera mencoba.

Selamat berkebun!

*p. s. untuk yang ingin menambahkan, diskusi, dan menyanggah, bisa langsung komentar, ya. terima kasih.*

Kamis, 20 September 2018

Bagaimana Aku Memulai Urban Gardening di Dalam Kamar

Sekitar satu tahun yang lalu saya mulai mencoba urban gardening dan mengoleksi beberapa macam tanaman, dan ditahap ini, berkebun tidak hanya menjadi sekedar kegemaran, tetapi juga adalah sebuah metode self-healing yang saya terapkan.
Kondisi terkini kamar tidur saya.
Saya mulai menanam ketika saya masih bekerja disalah satu thrift store di Surabaya bernama Newton Store. Kala itu, atasan saya memiliki proyek kecil terkait dengan berkebun dan journaling sebagai metode self-healing. Diawal, saya diminta untuk membeli bibit kaktus untuk dicoba ditanam dan dilaporkan hasilnya. Pada waktu itu, saya meminta tolong salah seorang teman saya bernama Bernasdito untuk menolong saya menanam karena kebetulan dia sudah paham betul cara menanam bibit kaktus. Dari proses itu, saya mendadak ingin mengoleksi kaktus dan sukulen.

Perjalanan saya dimulai dari mengoleksi kaktus dan sukulen. Di tahap awal, tidak sedikit saya gagal dalam merawat anak-anak hejo saya ini. Mulai dari root rot, mealy bugs, kurang air, salah media tanam sudah saya cicipi, hingga saya akhirnya menemukan metode yang paling pas dalam menanam sukulen dan kaktus. Saat ini, koleksi sukulen dan kaktus saya sudah mencapai hampir 50 jenis (kebanyakan sukulen). Lalu bagaimana saya bisa beralih menjadi pengoleksi foliage?

Saat itu, saya sedang mencari-cari jenis sukulen baru di toko lokal dekat rumah, dan saya melihat salah satu tanaman foliage yang sangat cantik yakni Calathea ornata yang ternyata cukup sulit perawatannya, dan saya memutuskan untuk membeli. Tanaman ini sangat cantik. Daunnya memiliki motif yang unik, itu yang membuat saya tertarik. Berbekal pengalaman yang sangat sedikit, saya memutuskan untuk mengadopsi si Calathea ini.

Diawal, begitu banyak kesulitan yang saya alami, mulai dari brown tip, curling leaf, dan penyakit karena hama. Saya hampir berhenti mencoba waktu itu, sampai akhirnya saya mencoba foliage jenis yang lain yaitu Dieffenbachia dan jauh lebih mudah perawatannya dibanding si cantik Calathea! Mulai dari itu, saya mulai mencoba membeli tanaman foliage dengan jenis yang berbeda-beda seperti Philodendron, Begonia, Epipremnum, dan Monstera.


Beberapa jenis tanaman yang saat ini saya koleksi.
Sekitar enam bulan yang lalu, saya memutuskan untuk memindahkan tanaman saya ke dalam kamar. Di awal begitu banyak keraguan yang saya miliki karena masih awam dan sedikit pengalaman terkait dengan perawatan tanaman. Namun akhirnya saya memantapkan diri untuk memindah tanaman saya ke dalam kamar. Tidak hanya foliage, sukulen dan kaktus saya pun sempat menghuni kamar saya di awal saya berkebun.

Propagasi sukulen.
Propagasi menggunakan air–Monstera adansonii.
Kondisi di pojokan kamar tempat bernaungnya anak-anak hijau.
Memutuskan untuk berkebun di dalam kamar merupakan keputusan yang tepat yang saya ambil karena saya jadi jauh lebih sering fokus ketika melakukan sebuah kegiatan di dalam kamar. Saya juga jadi lebih memperhatikan kebersihan kamar, serta mulai menata kamar supaya kondisinya lebih cocok untuk tanaman (karena tiap tanaman butuh kondisi cahaya, pun kelembaban yang berbeda-beda).

Saat ini, jumlah tanaman foliage yang saya koleksi sudah mencapai kurang lebih 20 jenis (dan masih akan bertambah). Saya memiliki wishlist tersendiri, terutama untuk jenis Calathea dan Philodendron serta beberapa aroid. Dimulai dari sukulen dan kaktus, kegemaran saya berkembang dan saya memutuskan untuk menekuni kegemaran saya yang saat ini.

Untuk teman-teman yang ingin memulai berkebun dan mengoleksi tanaman, tips dari saya cuma satu; jangan menyerah! Memutuskan untuk mengadopsi dan memelihara tanaman tidak kalah berat dengan mengadopsi dan memelihara hewan, bahkan lebih sulit mengadopsi tanaman (menurut saya) karena kita tidak bisa berkomunikasi dengan tanaman. Beberapa hal yang wajib untuk dipelajari yaitu kelembaban, cahaya, pengairan dan jenis air, pupuk, juga media tanam yang tepat. Jika kesemuanya sudah dikuasai, pasti akan jauh lebih mudah dibanding diawal kita memulai. Saya pun saat ini masih belajar.

Selamat mencoba!

Rabu, 19 September 2018

Plant Haul : Philodendron Micans | Review Toko dan Re-potting Tanaman (half bare-root plants) Pasca Pengiriman

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba membeli tanaman di salah satu platform marketplace tokopedia.com. Kebetulan saya hanya membeli satu jenis tanaman yaitu Philodendron scandens micans/velvet leaf vines. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan menahun (perennial), memiliki tekstur daun yang seperti velvet, merambat, dan cukup mudah perawatannya. Saya akan sertakan juga foto profil tanaman dan penjual dibawah.


Saya sudah kira-kira dua bulan mencari tanaman ini di nursery lokal dan belum menemukan, sekalinya menemukan harganya kira-kira bisa Rp. 35.000,- sampai Rp. 55.000,- makanya saya iseng-iseng gitu cari di internet marketplace dan beruntung dapat harga segini dengan ongkir kurang lebih Rp. 10.000,- dan lama pengiriman sekitar empat hari.

Paket saya terima dalam kondisi packing yang sangat baik. Tidak ada cacat pada bungkusan paket, paket yang diterima juga tidak dalam kondisi lembab akibat media tanam, juga saat dibuka, tanaman masih dalam kondisi baik. Tentu saja, empat hari pengiriman dengan media tanam yang di-press untuk memudahkan pengiriman menimbulkan stress pada tanaman.

Kondisi tanaman masih baik ketika diterima. Cukup rimbun.
Saya selalu berusaha menanam tanaman dalam kondisi yang segar agar tanaman lebih mudah menyerap nutrisi dan tidak mati karena proses penyesuaian. Maka dari itu, saya memutuskan untuk memberikan treatment khusus pada tanaman yang proses pengirimannya lebih dari dua hari. Treatment khusus ini saya berikan pada tanaman foliage bukan kaktus dan sukulen.

Treatment untuk tanaman foliage
Pertama-tama, saya bersihkan akar dari media tanam yang diberikan ketika pengiriman menggunakan air, sekaligus saya cek apakah ada hama yang terbawa (biasanya mealy bugs). Jika ada hama, saya bersihkan menggunakan alkohol 70% untuk membersihkan luka pada bagian tanaman yang ada hamanya saja (ditangani secara lokal).

Setelah saya membersihkan tanaman, saya rendam tanaman dalam air kran yang saya diamkan kurang lebih 24 jam. Lama perendaman tergantung kondisi tanamannya. Jika tanaman sudah terlihat lebih segar, maka bisa langsung dipindahkan dengan media tanam normal. Khusus tanaman ini, saya rendam kurang lebih 18 Jam.

Setelah saya rendam, saya potong jadi beberapa bagian. Sebagian saya pindahkan ke media tanam racikan sendiri, sebagian sengaja saya diamkan di dalam air agar tumbuh akar baru yang lebih segar.

Philodendron micans dalam media tanam normal.
Tekstur daun yang menyerupai bludru.
Sebagian tanaman yang saya biarkan di dalam air.
Untuk tanaman yang menggunakan media tanam normal, diatas media tanam saya berikan coco fiber untuk menutup media tanam. Hal ini dilakukan untuk menghindari nyamuk (karena saya berkebun di dalam kamar), selain itu, unsur hara yang dihasilkan oleh coco fiber juga bisa menjadi pupuk.

Secara keseluruhan, saya sangat puas dengan tanaman yang saya beli ini, juga pelayanan seller yang profesional. 

Kamis, 13 September 2018

Blog baru (lagi)! Selamat datang!


Hai!
Beberapa kali saya mencoba serius dalam dunia tulis menulis di ranah ini (blogging) tapi sulit sekali karena saya belum selesai dengan diri saya sendiri, sepertinya. Kali ini saya akan mencoba lebih keras lagi untuk serius dengan apa yang saya mulai dengan bungah.

Banyak kawan saya yang heran dengan kesenangan saya yang (katanya) seperti ibu-ibu (ya bagaimanapun juga, saya juga calon ibu.) Saya senang sekali merajut, bebikinan karya, juga berkebun dan mengoleksi tanaman-tanaman. Belakangan kegemaran saya ini menjadi hal yang saya geluti dengan serius sehingga saya memutuskan untuk membikinkan situs yang isinya hal-hal yang sudah saya lakukan serta tips dan trik untuk kawan-kawan yang sudah mampir mengenai apa-apa saja yang saya gemari. Saya juga tentunya akan berbagi cerita lain yang sekiranya menurut saya cukup menarik dan menginspirasi.

Sejauh ini saya sudah mengoleksi puluhan jenis kaktus dan sukulen, dan beberapa tumbuhan dedaunan (foliage) yang saya letakkan di kamar atau halaman rumah. Blog ini akan membahas lebih banyak mengenai anak hijau yang saya rawat ini, juga akan ada tulisan mengenai bebikinan karya, juga cerita personal saya (yang positif aja tentunya).

Semoga perkenalan di catatan pertama ini bisa mengenalkan blog ini secara gamblang pada teman-teman. Terima kasih!