Jumat, 02 November 2018

Ubud dan Ceritanya–Sebuah Alasan.

Selamat malam. Kali ini izinkan saya terlebih dahulu memohon maaf karena sudah lama tidak berkabar dan tidak menulis di blog lantaran banyak sekali yang lalu-lalang dalam benak. Kali ini, saya ingin berbagi bukan mengenai anak-anak hejo atau bebikinan, namun berbagi mengenai saya sendiri.

Seminggu yang lalu saya berkesempatan menghabiskan waktu saya di Ubud, menjadi sukarelawan sebuah event bernama Ubud Writers and Readers Festival selama lima hari. Banyak hal yang diberi dan didapat. Banyak ilmu yang didapat, cerita yang sudah dibagi, juga orang-orang hebat yang saya temui (tanpa terkecuali).

Pasar Tradisional Ubud

Blue is The Universe: Cultural Workshop

Blue is The Universe: Cultural Workshop

Ubud Writers and Readers Festival 2018: Jagadhita

Book launch: Buddha is a Punk Skater

Main Program: It Takes Two
Beberapa foto yang berhasil saya abadikan momennya. Tidak sebagus milik official photographer memang, setidaknya saya sudah semaksimal mungkin menggunakan ilmu saya mengambil gambar. Belum lagi jam terbang saya yang tidak terlalu tinggi. Mungkin memang benar, saat-saat ini saat yang tepat untuk menempa potensi yang saya miliki.

Bercerita pengalaman selama di sana memang seru, namun bukan itu yang ingin saya tuliskan kali ini. Saya ingin menulis 'mengapa'.

[Oke, saya kesulitan menuliskan apa yang saya rasakan.]
Saya rasa, saya ingin mulai dengan dorongan dari dalam hati untuk lekas pindah. Apakah kalian pernah merasakan hal yang sama? Kaki seperti berat untuk melangkah dan beraktivitas, tidak ada semangat untuk melakukan hal-hal yang mestinya membuat kita bahagia, kesulitan tidur, otak kita menolak untuk berhenti berpikir. Ya kira-kira begitu yang saya rasakan.

Sebentar, untuk post kali ini, izinkan saya untuk menggunakan bahasa Indonesia versi saya yang bancuh.

Sudah sekian tahun, dadaku seperti tertimpa–sulit buatku bernapas dan tidur nyenyak tiap malam. Mataku baru bisa benar-benar terpejam dalam gelam ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi. Aku tidak suka disini, aku menolak untuk bercerita mengapa. Nanti mereka berkilah, katanya aku suka menyalahkan keadaan. Padahal juga bukan itu. Aku berulang-ulang kali ingin berhenti, sudah tidak punya semangat untuk tetap tinggal disini. Masih saja mereka sok mengerti hidupku, lantaran aku masih anak kemarin sore katanya. Siapa tidak sakit hati dibegitukan? Maaf terkesan personal ya.

Berbulan-bulan aku terkungkung di kota Surabaya dengan orang-orang yang hampir seluruhnya tidak aku sukai. Sedangkan aku jatuh cinta pada Bali dengan manusia-manusianya yang membumi, mereka yang mau memahami mengenai aku tanpa titik atau koma, tanpa belu-belai mencari isbat mengenai wanita harus bagaimana, dan anak harus bagaimana. Aku haruslah menjadi aku, dan tidak boleh dan tidak dapat dipaksa untuk jadi yang lain.

Kemudian akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti program ini. Entah apakah hanya aku yang memiliki alasan se-'personal' ini untuk mengikuti kegiatan ini atau tidak. Namun, kira-kira itulah yang membuatku bersetuju mengikuti acara ini.

Jujur saja, sering sekali aku menghabiskan liburan di Bali karena memang buatku Bali adalah rumah. Tidak ada yang lebih nyaman dibandingkan Bali. Aku merasa bebas mengekspresikan diri, bebas menjadi diriku sendiri, dan tetap didukung, namun dikritik secara bersamaan disini. Banyak hal yang menahan hatiku untuk menetap disini. Tapi aku belum pernah jatuh cinta pada Ubud, sampai akhirnya aku menghabiskan lima hariku di Ubud.

Iya, aku jatuh cinta pada Ubud–dengan segala kemacetan dan harga kebutuhan pokok yang melangit. Aku jatuh cinta hingga aku memutuskan untuk segera menetap disana seusai aku lulus.

Selama lima hari aku tinggal di Ubud, aku menyembuhkan lukaku sendiri dengan caraku. Aku mulai menulis lagi, aku mulai mendengarkan musikku, aku bertemu dengan banyak sekali orang baru, dan aku suka. Aku merasa diterima tanpa mereka tahu bagaimana aku yang sebenarnya.

Selama lima hari aku tinggal di Ubud, aku belajar mencintai diriku sendiri. Aku mulai berolahraga, mengurangi konsumsi makanan instan dan junk food, belajar mencukupi diri dengan apa yang ada.

Maka kali ini aku berterimakasih, sekali lagi, pada semesta, yang sudah dengan bijak mengajakku bergabung dan menghabiskan waktu di tempat yang baru. Sebelumnya aku hanya pergi ke tempat-tempat yang aku tahu saja. Tapi kali ini berbeda. Dan aku bahagia.

Rabu, 26 September 2018

Resep Hehijauan: Homemade Almond Milk

Beberapa bulan ini saya sedang suka dengan akun youtube Raw Alignment dan mencoba membuat membuat jus, smoothie, over-night oat, dan berbagai macam resep buah dan sayur sendiri. Saya juga mulai mencoba mengkonsumsi makanan-makanan rendah gula dan mencari alternatif makanan pokok yaitu nasi. Dua hari yang lalu, saya memutuskan mencoba membuat susu almond.

Homemade almond milk
Kali ini, saya ingin berbagi resep susu almond buatan saya. Kebetulan dua hari yang lalu saya nganggur, akhirnya saya memutuskan membuat susu almond sendiri untuk konsumsi pribadi tentunya. Selain mudah, saya juga menggunakan bahan-bahan yang tidak mahal, beberapa malah saya ambil dari kebun di halaman rumah.

Kacang almond memiliki berbagai macam manfaat bagi tubuh kita, selain disebut sebagai superfood. Beberapa manfaat diantaranya adalah menurunkan kadar kolesterol jahat, pengontrol diabetes, menyehatkan jantung, meningkatkan kinerja otak, melancarkan pencernaan, dan baik untuk ibu hamil. Banyak banget kan? Kalau begitu, langsung aja deh kita simak cara membuatnya.

Bahan -bahan yang dibutuhkan untuk membuat susu almond adalah :


250 gram kacang almond (saya menggunakan raw almond)
1 liter air mineral
Buah kurma secukupnya sebagai pemanis (boleh diganti madu, atau gula biasa.)
Garam secukupnya

Cara membuatnya mudah saja kok :
Rendam kacang almond dengan air matang kurang lebih 8 sampai 24 jam sampai kacang almond terlihat plump, kemudian tiriskan.

Siapkan blender, masukkan kacang almond, air mineral, buah kurma (saya pakai sekitar 8 buah kurma untuk 1 liter susu almond), dan beri setengah sendok teh garam, lalu blender sampai berbuih. Nah, jika ingin membuat susu almond dengan jumlah yang lebih sedikit, cukup diingat rasionya yaitu 1:4 dimana setiap 1 gram kacang almond butuh 4 mili liter air. Jadi kalau mau buat 600 ml susu almond, membutuhkan 150 gram kacang almond, dan air sebanyak 600 ml.

Setelah itu, saring menggunakan penyaring (saya menggunakan pakaian untuk menyaring agar susu jadi lebih lembut), saring hingga tetes terakhir.




Langkah tambahan saya adalah memanaskan susu menggunakan daun pandang selama kurang lebih 5 menit saja. Pandan saya masukkan terlebih dahulu ke dalam panci sampai agak layu, kemudian saya masukkan susu almond. Saya aduk terus sampai mengeluarkan bau pandan (kurang lebih 5 menit saja), kemudian saya tiriskan dan saya diamkan sampai dingin.

proses penyaringan
Agar lebih awet, saya masukkan susu almond ke dalam container tertutup seperti toples kaca atau mason jar.

Untuk pemanis susu almond, sebetulnya tidak harus menggunakan buah kurma. Bisa menggunakan madu, mapple syrup, gula biasa, bahkan gula aren bisa digunakan kalau memang okay dengan rasanya. Saya pribadi menggunakan buah kurma karena buah kurma memiliki serat alami di dalamnya dan meningkatkan energi.

ampas penyaringan

Lalu bagaimana dengan ampas penyaringannya? Untuk ampasnya, saya sangrai dan saya simpan dalam container stainless steel untuk kemudian saya gunakan menjadi topping makanan-makanan di rumah. Jadi, tidak perlu dibuang. Selain untuk jadi topping, bisa juga untuk bahan smoothie.

Susu almond ini rasanya ringan, nutty, creamy, dan tidak terlalu manis. Persis dengan apa yang saya ekspektasikan. Saya suka sekali rasanya dibandingkan susu almond yang biasanya saya beli. Apalagi ada aroma pandan, jadi lebih cocok untuk lidah saya.

Proses pembuatannya mudah, bukan? Susu almond ini bisa jadi alternatif susu bagi anak-anak yang kurang suka susu sapi. Selain itu, susu almond ini bisa jadi project orang tua dan anak di akhir pekan, juga untuk project lainnya.

Selamat mencoba!

Selasa, 25 September 2018

Tanaman untuk Pemula: 3 Houseplants Untuk Memulai Urban-gardening.

A room full of love.
*note : saya memohon maaf jika bahasanya tercampur-campur dengan bahasa Inggris, dikarenakan masih ada beberapa kosakata yang saya belum temukan dalam bahasa Indonesia.*


Siapa bilang memulai urban-gardening itu sulit? Memulai aktivitas baru memang akan selalu sulit, apalagi jika aktivitas-aktivitas baru tersebut tidak pernah tersentuh sama sekali. Tapi, aktivitas-aktivitas baru tersebut tidak boleh jadi momok, apalagi jika aktivitas baru tersebut membantu diri kita untuk jadi lebih positif dari sebelumnya.

Urban-gardening adalah salah satu aktivitas yang patut untuk dicoba, lho, teman-teman. Bagi teman-teman yang hidup di kota tentu akan menyadari pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Hal ini menjadi dilema tersendiri karena dengan pertumbuhan penduduk yang pesat, tentu dibutuhkan space yang lebih besar untuk manusia dapat hidup dan beraktivitas. Karena space yang semakin minim tersebut, munculah beberapa alternatif gaya hidup. Salah satunya adalah urban-gardening. Konsep gaya hidup urban-gardening sendiri sudah berkembang sangat pesat, dan memunculkan banyak gerakan-gerakan pola hidup yang baru.

Urban-gardening ala Cila.
Memulai urban-gardening sebenarnya mudah saja, kok, teman-teman. Kalian cukup membeli tanaman yang mudah untuk di rawat. Perlahan-lahan pasti rasa cinta dan kepekaan kalian terhadap urban-garden kalian akan tumbuh, seperti pepatah orang-orang Jawa 'tresna jalaran saka kulina' bahwa rasa cinta akan tumbuh karena terbiasa.

Kali ini, saya ingin berbagi info mengenai tanaman yang mudah sekali perawatannya dan cocok bagi pemula. Jangan lupa dicatat untuk segera diadopsi, ya!

Sansevieria / lidah mertua

sumber: modularmerchant.com
Salah satu tanaman yang tidak riweuh dan bisa hidup dengan aman dan tentram di dalam rumah adalah si lidah mertua ini. Bentuknya seperti pedang dengan daun yang memiliki banyak motif dan warna. Sangat cantik! Selain lidah mertua jumbo, ada juga versi mininya lho! Selain itu, harga tanaman ini tidak terlalu mahal karena sudah menjadi common plant di Indonesia.

Perawatannya sangat mudah, kok! Cukup diamkan aja, disiram hanya waktu media tanam sudah kering 100%. Lidah mertua saya biasanya saya siram sekitar satu setengah bulan sekali dan tetap tumbuh dengan bahagia. Bahkan, si lidah mertua di rumah sudah memunculkan tunas baru. Untuk cahaya matahari, si lidah mertua ini bisa thrive dalam segala kondisi cahaya mulai dari low-light sampai full-light dibawah sinar matahari. Selain itu, tanaman ini tidak terlalu membutuhkan pupuk. Bisa disimpulkan dong seberapa mudah perawatannya dari penjelasan di atas?

Apa sih keuntungan si lidah mertua ini? Tanaman ini sudah dinobatkan oleh NASA Clean Air Study sebagai tanaman yang mampu membersihkan udara kotor karena kemampuannya menyerap racun seperti formaldehyde (biasanya dipakai untuk cat, dan bahan peledak), xylene (printing, rubber, and leather industry), dan toluene (thinner, lem). Tidak hanya itu, tanaman ini menyerap karbon dioksida di malam hari, dan mengeluarkan oksigen pada pagi, siang, dan sore hari sehingga sangat cocok untuk ditaruh di kamar. tapi perlu diingat, ya, tanaman ini beracun jika termakan.

Pothos / sirih-sirihan

sumber: interiorofficeplant.com
Salah satu tanaman yang paling sederhana, cantik, easy grower, dan bushy di dunia ini adalah pothos atau bisa juga disebut tanaman sirih-sirihan (tidak bisa di makan, ya!)

Tanaman ini adalah salah satu house-plant pertama yang saya dapat dari beberapa cutting dan aku propagasi sendiri, dan sampai hari ini masih bahagia dan makin rimbun. Tidak hanya itu, harga pothos di nursery lokal bisa dikatakan cukup murah, kisaran Rp. 10.000,- sampai Rp. 35.000,- tergantung jenis dan kerimbunannya. Beragamnya jenis pothos ini membuat banyak orang jatuh cinta karena tiap-tiap jenis memiliki keunikan masing-masing.

Sama seperti si lidah mertua, pothos juga mampu membersihkan udara di dalam ruangan sehingga sangat baik untuk dijadikan tanaman indoor. Tidak hanya itu, pothos mampu bertahan dalam kondisi low-light walaupun tumbuhnya tidak secepat di kondisi medium light, yang penting si pothos gak rewel tumbuh. Jika bisa, hindarkan si pothos dari matahari langsung, ya, apalagi jika pothos yang sudah variegata. Untuk penyiraman, pastikan media tanam kering sekitar 70%, baru di siram. Jangan dibiarkan kekeringan, ya. Pothos di kamar saya biasanya disiram sekitar dua minggu sekali, tergantung kondisi kelembabannya. Patokan untuk tau kapan harus siram adalah menyelupkan jari ke dalam tanah sedalam kurang lebih 2 cm, kalau tanah terasa lembab saja, dan tidak membuat jari basah ketika diangkat, maka itu waktu yang tepat untuk menyiram. Mudah kan?

Zamioculcas Zamiifolia / ZZ Plant / Tanaman Dolar

sumber: nfdonline.com
Pernah lihat tanaman yang satu ini? Si cantik ZZ Plant adalah salah satu tanaman yang mudah perawatannya, lho! Tidak rewel, dan memiliki tekstur daun serta bentuk yang unik. Kekurangannya sih, ya, tumbuhnya memang agak lama. Tapi kalau sudah rimbun, pasti terkagum-kagum. Tanaman ini saya rekomendasikan untuk teman-teman yang sangat sibuk di luar rumah sehingga kurang ada quality time untuk si cantik ini.

ZZ Plant terkenal bandel dan menolak dying. Saya pernah over water tanaman ini, dia cuma agak layu aja. Saya pun pernah biarin si cantik ini selama dua bulanan, sama sekali tidak saya sentuh dan tidak setetes airpun saya beri, dan dia masih tetap thriving sampai hari ini. Di awal-awal berkebun, saya sering sekali miss-treated dia dan dia masih sayang sama saya sampai hari ini. Terharu sekali.

Untuk perawatannya sendiri, tidak ribet kok. Cukup siram dia waktu tanah dalam kondisi 90% kering, mungkin sekitar 2 atau 3 minggu sekali untuk ZZ Plant yang sehat dan bahagia. Kemudian untuk kondisi cahaya, ZZ Plant bisa masuk ke kondisi pencahayaan apapun, mulai dari low-light sampai high-light tapi sebisa mungkin untuk menghindarkan si cantik dari matahari langsung waktu tengah hari, ya.

Scindapsus pictus / satin pothos / sirih velvet
Nah, di atas adalah tiga tanaman rekomendasi dari saya untuk teman-teman yang mau memulai koleksi house-plant. Tanaman-tanaman diatas saya pilih karena saya pribadi sudah mencoba merawat ketiganya, dan memang ketiga tanaman ini adalah tanaman yang mudah untuk dirawat oleh pemula. Semoga thread ini bisa membantu teman-teman mengurangi keresahan memulai urban-gardening dan memantik keinginan untuk segera mencoba.

Selamat berkebun!

*p. s. untuk yang ingin menambahkan, diskusi, dan menyanggah, bisa langsung komentar, ya. terima kasih.*

Kamis, 20 September 2018

Bagaimana Aku Memulai Urban Gardening di Dalam Kamar

Sekitar satu tahun yang lalu saya mulai mencoba urban gardening dan mengoleksi beberapa macam tanaman, dan ditahap ini, berkebun tidak hanya menjadi sekedar kegemaran, tetapi juga adalah sebuah metode self-healing yang saya terapkan.
Kondisi terkini kamar tidur saya.
Saya mulai menanam ketika saya masih bekerja disalah satu thrift store di Surabaya bernama Newton Store. Kala itu, atasan saya memiliki proyek kecil terkait dengan berkebun dan journaling sebagai metode self-healing. Diawal, saya diminta untuk membeli bibit kaktus untuk dicoba ditanam dan dilaporkan hasilnya. Pada waktu itu, saya meminta tolong salah seorang teman saya bernama Bernasdito untuk menolong saya menanam karena kebetulan dia sudah paham betul cara menanam bibit kaktus. Dari proses itu, saya mendadak ingin mengoleksi kaktus dan sukulen.

Perjalanan saya dimulai dari mengoleksi kaktus dan sukulen. Di tahap awal, tidak sedikit saya gagal dalam merawat anak-anak hejo saya ini. Mulai dari root rot, mealy bugs, kurang air, salah media tanam sudah saya cicipi, hingga saya akhirnya menemukan metode yang paling pas dalam menanam sukulen dan kaktus. Saat ini, koleksi sukulen dan kaktus saya sudah mencapai hampir 50 jenis (kebanyakan sukulen). Lalu bagaimana saya bisa beralih menjadi pengoleksi foliage?

Saat itu, saya sedang mencari-cari jenis sukulen baru di toko lokal dekat rumah, dan saya melihat salah satu tanaman foliage yang sangat cantik yakni Calathea ornata yang ternyata cukup sulit perawatannya, dan saya memutuskan untuk membeli. Tanaman ini sangat cantik. Daunnya memiliki motif yang unik, itu yang membuat saya tertarik. Berbekal pengalaman yang sangat sedikit, saya memutuskan untuk mengadopsi si Calathea ini.

Diawal, begitu banyak kesulitan yang saya alami, mulai dari brown tip, curling leaf, dan penyakit karena hama. Saya hampir berhenti mencoba waktu itu, sampai akhirnya saya mencoba foliage jenis yang lain yaitu Dieffenbachia dan jauh lebih mudah perawatannya dibanding si cantik Calathea! Mulai dari itu, saya mulai mencoba membeli tanaman foliage dengan jenis yang berbeda-beda seperti Philodendron, Begonia, Epipremnum, dan Monstera.


Beberapa jenis tanaman yang saat ini saya koleksi.
Sekitar enam bulan yang lalu, saya memutuskan untuk memindahkan tanaman saya ke dalam kamar. Di awal begitu banyak keraguan yang saya miliki karena masih awam dan sedikit pengalaman terkait dengan perawatan tanaman. Namun akhirnya saya memantapkan diri untuk memindah tanaman saya ke dalam kamar. Tidak hanya foliage, sukulen dan kaktus saya pun sempat menghuni kamar saya di awal saya berkebun.

Propagasi sukulen.
Propagasi menggunakan air–Monstera adansonii.
Kondisi di pojokan kamar tempat bernaungnya anak-anak hijau.
Memutuskan untuk berkebun di dalam kamar merupakan keputusan yang tepat yang saya ambil karena saya jadi jauh lebih sering fokus ketika melakukan sebuah kegiatan di dalam kamar. Saya juga jadi lebih memperhatikan kebersihan kamar, serta mulai menata kamar supaya kondisinya lebih cocok untuk tanaman (karena tiap tanaman butuh kondisi cahaya, pun kelembaban yang berbeda-beda).

Saat ini, jumlah tanaman foliage yang saya koleksi sudah mencapai kurang lebih 20 jenis (dan masih akan bertambah). Saya memiliki wishlist tersendiri, terutama untuk jenis Calathea dan Philodendron serta beberapa aroid. Dimulai dari sukulen dan kaktus, kegemaran saya berkembang dan saya memutuskan untuk menekuni kegemaran saya yang saat ini.

Untuk teman-teman yang ingin memulai berkebun dan mengoleksi tanaman, tips dari saya cuma satu; jangan menyerah! Memutuskan untuk mengadopsi dan memelihara tanaman tidak kalah berat dengan mengadopsi dan memelihara hewan, bahkan lebih sulit mengadopsi tanaman (menurut saya) karena kita tidak bisa berkomunikasi dengan tanaman. Beberapa hal yang wajib untuk dipelajari yaitu kelembaban, cahaya, pengairan dan jenis air, pupuk, juga media tanam yang tepat. Jika kesemuanya sudah dikuasai, pasti akan jauh lebih mudah dibanding diawal kita memulai. Saya pun saat ini masih belajar.

Selamat mencoba!

Rabu, 19 September 2018

Plant Haul : Philodendron Micans | Review Toko dan Re-potting Tanaman (half bare-root plants) Pasca Pengiriman

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba membeli tanaman di salah satu platform marketplace tokopedia.com. Kebetulan saya hanya membeli satu jenis tanaman yaitu Philodendron scandens micans/velvet leaf vines. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan menahun (perennial), memiliki tekstur daun yang seperti velvet, merambat, dan cukup mudah perawatannya. Saya akan sertakan juga foto profil tanaman dan penjual dibawah.


Saya sudah kira-kira dua bulan mencari tanaman ini di nursery lokal dan belum menemukan, sekalinya menemukan harganya kira-kira bisa Rp. 35.000,- sampai Rp. 55.000,- makanya saya iseng-iseng gitu cari di internet marketplace dan beruntung dapat harga segini dengan ongkir kurang lebih Rp. 10.000,- dan lama pengiriman sekitar empat hari.

Paket saya terima dalam kondisi packing yang sangat baik. Tidak ada cacat pada bungkusan paket, paket yang diterima juga tidak dalam kondisi lembab akibat media tanam, juga saat dibuka, tanaman masih dalam kondisi baik. Tentu saja, empat hari pengiriman dengan media tanam yang di-press untuk memudahkan pengiriman menimbulkan stress pada tanaman.

Kondisi tanaman masih baik ketika diterima. Cukup rimbun.
Saya selalu berusaha menanam tanaman dalam kondisi yang segar agar tanaman lebih mudah menyerap nutrisi dan tidak mati karena proses penyesuaian. Maka dari itu, saya memutuskan untuk memberikan treatment khusus pada tanaman yang proses pengirimannya lebih dari dua hari. Treatment khusus ini saya berikan pada tanaman foliage bukan kaktus dan sukulen.

Treatment untuk tanaman foliage
Pertama-tama, saya bersihkan akar dari media tanam yang diberikan ketika pengiriman menggunakan air, sekaligus saya cek apakah ada hama yang terbawa (biasanya mealy bugs). Jika ada hama, saya bersihkan menggunakan alkohol 70% untuk membersihkan luka pada bagian tanaman yang ada hamanya saja (ditangani secara lokal).

Setelah saya membersihkan tanaman, saya rendam tanaman dalam air kran yang saya diamkan kurang lebih 24 jam. Lama perendaman tergantung kondisi tanamannya. Jika tanaman sudah terlihat lebih segar, maka bisa langsung dipindahkan dengan media tanam normal. Khusus tanaman ini, saya rendam kurang lebih 18 Jam.

Setelah saya rendam, saya potong jadi beberapa bagian. Sebagian saya pindahkan ke media tanam racikan sendiri, sebagian sengaja saya diamkan di dalam air agar tumbuh akar baru yang lebih segar.

Philodendron micans dalam media tanam normal.
Tekstur daun yang menyerupai bludru.
Sebagian tanaman yang saya biarkan di dalam air.
Untuk tanaman yang menggunakan media tanam normal, diatas media tanam saya berikan coco fiber untuk menutup media tanam. Hal ini dilakukan untuk menghindari nyamuk (karena saya berkebun di dalam kamar), selain itu, unsur hara yang dihasilkan oleh coco fiber juga bisa menjadi pupuk.

Secara keseluruhan, saya sangat puas dengan tanaman yang saya beli ini, juga pelayanan seller yang profesional. 

Kamis, 13 September 2018

Blog baru (lagi)! Selamat datang!


Hai!
Beberapa kali saya mencoba serius dalam dunia tulis menulis di ranah ini (blogging) tapi sulit sekali karena saya belum selesai dengan diri saya sendiri, sepertinya. Kali ini saya akan mencoba lebih keras lagi untuk serius dengan apa yang saya mulai dengan bungah.

Banyak kawan saya yang heran dengan kesenangan saya yang (katanya) seperti ibu-ibu (ya bagaimanapun juga, saya juga calon ibu.) Saya senang sekali merajut, bebikinan karya, juga berkebun dan mengoleksi tanaman-tanaman. Belakangan kegemaran saya ini menjadi hal yang saya geluti dengan serius sehingga saya memutuskan untuk membikinkan situs yang isinya hal-hal yang sudah saya lakukan serta tips dan trik untuk kawan-kawan yang sudah mampir mengenai apa-apa saja yang saya gemari. Saya juga tentunya akan berbagi cerita lain yang sekiranya menurut saya cukup menarik dan menginspirasi.

Sejauh ini saya sudah mengoleksi puluhan jenis kaktus dan sukulen, dan beberapa tumbuhan dedaunan (foliage) yang saya letakkan di kamar atau halaman rumah. Blog ini akan membahas lebih banyak mengenai anak hijau yang saya rawat ini, juga akan ada tulisan mengenai bebikinan karya, juga cerita personal saya (yang positif aja tentunya).

Semoga perkenalan di catatan pertama ini bisa mengenalkan blog ini secara gamblang pada teman-teman. Terima kasih!